Karya Ini Disusun untuk Mengikuti Lomba Esai
Disusun oleh :
MUHAMMAD RIFKI RAHMATULLAH
LAILA HAYATI
MAN 1 BANJARMASIN
Pada tahun 2021, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), angka kemiskinan di Indonesia mencapai 9,71% atau 26,50 juta (BPS, 2021). Hal tersebut berbanding lurus dengan angka kemiskinan di Kalimantan Selatan khususnya di Kota Banjarmasin sebanyak 208.118 jiwa (BPS, 2021). Ditambah lagi dengan fakta bahwa Banjarmasin merupakan kota dengan jumlah penduduk terpadat di Kalimantan Selatan, yakni 657,66 ribu jiwa (BPS, 2020)
Hal tersebut menyebabkan banyaknya permukiman kumuh di Banjarmasin dengan kondisi lingkungan yang kurang memadai, serta penataan letak rumah-rumah penduduk yang tidak merata. Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman Banjarmasin, Ahmad Fanani menyatakan bahwa pada tahun 2021 luasan permukiman kumuh bertambah menjadi 380 hektare yang menyebar di lima kecamatan. Dalam masalah ini Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin sudah pernah melaksanakan program KOTAKU yang mana program ini bertujuan untuk memperbaiki permukiman kumuh dari tahun 2015-2020. Selama lima tahun program ini dijalankan, luasan permukiman kumuh yang awalnya 549 hektar hanya tersisa 36 hektar (Radar Banjarmasin, 2021). Walaupun program ini mampu menekan angka pertumbuhan pemukiman kumuh di Banjarmasin selama 5 tahun dijalankan, namun pada akhirnya di tahun 2021 permukiman kumuh kembali meningkat. Program tersebut terkendala karena beberapa faktor seperti, jalan lingkungan, sanitasi, kerawanan bahaya kebakaran dan sampah.
Gambar 1. Salah satu kampung kumuh di Kota Banjarmasin
(Sumber : Radar Banjarmasin)
Di Kota Banjarmasin sendiri sudah dibangun kampung rintisan dengan nama Kampung Sasirangan yang terletak di Jalan Seberang Mesjid. Sasirangan sendiri merupakan kain khas provinsi Kalimantan Selatan. Kampung Sasirangan ini hanya sebagai tempat pembuatan sasirangan dan sentral jual beli produk sasirangan. Pengunjung dari luar datang hanya untuk melihat proses pembuatan dan transaksi jual beli sasirangan. Sementara dari segi penataan kampungnya kurang diperhatikan. Secara ekonomi, Kampung Sasirangan belum mampu mengangkat perekonomian masyarakat sekitar karena di kampung tersebut hanya sedikit dari masyarakatnya yang berprofesi sebagai pengrajin dan penjual sasirangan.
Kain sasirangan merupakan identitas dan ciri khas Banjar yang mengalami fase pasang surut dalam perjalanannya hingga sekarang. Kurangnya pengetahuan terhadap kain sasirangan adalah salah satu faktor yang menyebabkan naik turunnya minat terhadap kain sasirangan, maka upaya-upaya pelestarian harus segera dilakukan. Pelestarian tentunya tidak hanya dimaksudkan agar keberadaan kain tersebut tidak punah. Tetapi, juga agar pemuda Banjar sebagai penerus bangsa akan terus mencintai kain sasirangan tersebut (Ahmad Bahroini, 2013).
Berdasarkan masalah diatas, perlunya penataan kampung yang tidak hanya menciptakan hunian yang nyaman maupun bersih, tetapi juga bisa menumbuhkan perekonomian dan industri kreatif masyarakat sekitar. Selain itu juga diperlukan penataan kampung yang menonjolkan unsur kearifan lokal Kalimantan Selatan. Oleh karena itu, penulis menemukan ide menciptakan inovasi kampung wisata berbasis budaya di Banjarmasin dengan konsep sasirangan culture spot.
Sasirangan culture spot merupakan kampung yang didesain dengan konsep sasirangan. Dimana implementasi motif sasirangan diaplikasikan pada bangunan fisik seperti rumah penduduk, jalan, rumah ibadah, warung atau toko serta bangunan publik yang ada dikampung tersebut. Selain itu di Sasirangan Culture Spot bisa menjadi pusat bisnis kerajinan sasirangan dan pusat bisinis lainnya
gambar 2. Desain depan kampung Sasirangan Culture Spot
(sumber: penulis)
gambar 3. Desain dalam kampung Sasirangan Culture Spot
(sumber : penulis)